Segala Puji hanya milik Tuhan Yang Maha Esa, Pencipta
alam semesta, Raja langit dan bumi, yang telah menunjuki jalan kebenaran dan
menguatkan kita dalam menapaki jalan kemuliaan, jalan perubahan menuju
kemerdekaan dan kedamaian sejati.Sebuah jalan yang dirindukan oleh setiap diri
di muka bumi.Jalan kebenaran yang tidak dapat dipungkiri oleh makhluk apapun di
muka bumi.Hanya dengan berjalan pada jalan kebenaran, maka setiap makhluk dapat
hidup secara seimbang, teratur, dan saling melayani.
Jalan kebenaran ini dapat menjadi pintu bagi untaian
keharmonisan hidup bagi setiap insan di alam raya, termasuk kita yang berdiam
di bangsa Nusantara ini.Untaian keharmonisan ini menjadi cita-cita ideal pada
setiap era peradaban. Walau terbangun atas beragam suku, bahasa, adat istiadat,
dan keyakinan, namun keberagaman itu diharapkan akan memperkaya aset bangsa
untuk menjadi kekuatan integral bagi Ibu Pertiwi. Setiap diri mendambakan untuk
hidup dalam tatanan masyarakat heterogen yang rukun, saling menghormati,
teposeliro, adil, sejahtera, arif dan bijaksana.
Bumi yang kita pijak adalah karunia yang luar biasa
dari Yang Maha Agung. Tanah Air Nusantara adalah rumah dimana kita dilahirkan,
dan dibesarkan, sebagai anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa, Sang Pencipta,
Pengatur dan Pendidik alam semesta termasuk bumi tempat putera-puteri Nusantara
berkarya. Adalah ironi jika kita tidak mencintai rumah tinggal kita sendiri,
membiarkannya tak terurus, atau menyia-nyiakan karunia kekayaan duniawi ini
sebagai amanah dari Dia Yang Maha Kaya. Lebih dari itu, putera-puteri dan
anggota keluarga yang berada dan hidup dalam tatanan cinta dan kasih sayang
alam Nusantara adalah bagian dari karunia itu sendiri.
Sangat disayangkan pula apabila hari ini tatanan
budaya cinta dan kasih sayang antar sesama anak kandung Ibu Pertiwi yang hidup
di dalam rumah besar ini, dari Sabang hingga Merauke, yang telah terbina dan
dipelihara oleh para leluhur Nusantara secara turun-temurun, kini mengalami
degradasi spirit persatuan dan kesatuan, dekadensi moral, abrasi budi pekerti,
hanyut terbawa hantaman zaman, hingga tiba-tiba saja hari ini kita tersadar
betapa merosotnya moral dan budi pekerti yang dimiliki saudara-saudara kita
serumah dan setanah air, dan betapa jauhnya abrasi budaya yang telah terjadi.
Siapa pun hari ini mengetahui bahwa kondisi Ibu
Pertiwi yang kita cintai sedang merintih akibat keterpurukan di berbagai sendi
kehidupannya. Mulai dari ideologi, politik, ekonomi, sosial-budaya, hingga
pertahanan dan keamanan, porak poranda dihantam sesuatu yang kita sendiri
gelap, apa dan bagaimana penyebab dari semua ini. Kita hanya bisa meraba-raba
dan menebak-nebak kondisi yang ada tanpa mampu membaca dengan tepat dan benar
apa sesungguhnya yang sedang terjadi. Akhirnya, kita hanya mampu berdiskusi dan
saling menyalahkan bahkan saling melempar tanggung jawab serta menduga-duga apa
penyebab semua ini, sembari mencoba menanggulanginya dengan tindakan parsial
dan tambal sulam. Sangatlah wajar jika sampai saat ini, tidak ada perbaikan
yang berarti, bahkan kondisinya kian hari kian tak pasti.
Lalu di manakah letak akar dari permasalahan bangsa
ini, sehingga belum juga mampu keluar dari keterpurukannya di segala lini
kehidupannya?Mengapa bangsa yang sudah 66 tahun merdeka, namun belum mampu
mensejahterakan seluruh rakyatnya?Mengapa Ibu Pertiwi belum juga bisa menjadi
mercusuar dunia? Bukankah negeri ini kaya akan sumber daya alam, kekayaan hutan
dengan beragam ekologi di dalamnya sekaligus sebagai paru-paru dunia, kekayaan
bahari, kaya akan budaya dan bahasa, sumber daya manusia yang tak kalah
jeniusnya dari anak bangsa lain dan kaya akan nilai-nilai tradisi serta budaya
lokal yang terbukti pernah mengantarkan bangsa Nusantara ke puncak kejayaannya?

